Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat menyatakan menolak keberadaan Festival Film Q (festival film gay dan lesbian) yang diselenggarakan di Jakarta. "Kalau MUI kan jelas soal tontonan. Jangankan yang seperti itu (Festival Film Q), infotaiment saja sudah dinyatakan haram oleh MUI," jelas Ketua MUI Provinsi Jawa Barat KH Hafidz Utsman di Bandung, Jawa Barat, Rabu (28/9).
Menurut Hafidz, setiap tontonan yang ditayangkan untuk masyarakat umum layaknya tidak hanya menjadi sebuah tontonan, tetapi juga bisa menjadi tuntunan. Terkait tuntutan Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta yang menolak pelaksanakaan festival tersebut, pihaknya tidak mempermasalahkan.
"Setiap orang bebas mengutarakan pendapatnya, namun yang harus digarisbawahi bahwa dalam menyampaikan pendapat tidak boleh anarkis," tandas Hafidz.
Pada festival itu, di antaranya menampilkan film Bad Boys Cell 425 yang disutradarai Janusz Mrozowski dan Fucking Different Tel Aviv yang disutradarai warga negara Israel Queer Crossover. Rencananya, film-film itu akan diputar di 12 tempat di Jakarta. Selain di Goethe Institut, film itu juga akan digelar di Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Hius dan Pusat Kebudayaan Prancis.
Fitzgerald Headline
Search This Blog
Showing posts with label Pro Kontra Film Gay. Show all posts
Showing posts with label Pro Kontra Film Gay. Show all posts
Wednesday, September 29, 2010
MUI Jawa Barat tolak Festifal Film Q
Agar objektif, FPI di minta menonton Film Gay-Lesbi dulu
Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) menilai Front Pembela Islam (FPI) tidak seharusnya memberikan peringatan bahkan terkesan mengancam untuk menghentikan rangkaian pemutaran film di acara Q Film Festival 2010, yang berlangsung dari 24 September hingga 3 Oktober 2010.
Dikatakan Komisioner Komnas HAM Johny Nelson Simanjuntak, FPI seharusnya memberikan penilaian yang obyektif terlebih dahulu tentang film-film yang akan diputar.
"Kalau tidak menonton, tidak mungkin bisa memberikan penilaian yang obyektif. Rekan-rekan FPI diminta menonton dululah dan baru memberikan penilaian. Kalau teman-teman tidak bisa menonton itu karena menyalahi iman mereka, ya bisa meminta ahli untuk menonton sehingga bisa memberikan penilaian obyektif. Jangan langsung memberhentikan penyiaran, itu kan tidak bagus," tegasnya dihubungi Kompas.com, Rabu (29/9/2010).
Menurutnya, teman-teman di FPI mendatangkan ahli dan menontonnya untuk memberikan pendapat obyektif terhadap film-film itu. "Teman-teman transeksual juga kiranya mendengar pendapat yang disampaikan mereka. Perlu sikap yang moderat dari semua pihak," tambahnya.
Johny mengatakan Komnas HAM sendiri belum dapat menyatakan sikapnya terhadap boleh atau tidaknya pemutaran film bertemakan kehidupan Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) ini sebelum memperoleh informasi yang cukup mengenai film-film yang akan diputar.
Namun yang pasti, Komnas HAM mendukung kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia, termasuk dari kalangan LGBT, selama itu tidak bertentangan dengan UU yang menjadi koridor kehidupan di Indonesia.
"Kebebasan juga tidak berarti kemauan sendiri-sendiri, tidak berarti begitu tapi juga kalau orang membikin koridor atas kebebasan sendiri tidak benar juga. Orang bebas semaunya tidak bisa. Orang membatasi kebebasan juga tidak bisa. Harus ada kesepakatan atas kebebasan yang bisa melindungi orang-orang yang mengekspresikan tapi juga harus ada batasnya, yaitu UU sebagai kesepakatan nasional," paparnya.
FPI juga harus menjelaskan alasan mereka menyampaikan protes yang keras terkait penyelenggaran festival tersebut. Mengingat, penyelenggaraan Q Film Festival bukanlah yang pertama digelar namun sudah berlangsung hampir 10 tahun.
Lebih jauh Johny mengatakan bahwa kedua pihak harus terbuka apakah aspirasi FPI sudah pernah disampaikan sebelumnya, lantas diacuhkan atau justru protes baru kali ini disampaikan, dan langsung (menolak) dengan cara yang keras.
Komnas HAM berharap ada ruang mediasi antara kedua pihak untuk menemukan jalan keluar. Menurut Johny, pemberhentian pemutaran film seharusnya tak perlu dilakukan jika film-film memang bermuatan edukasi untuk kaum LGBT. Lagipula, penonton festival film ini memang dibatasi melalui keanggotaan komunitas tertentu.
Lantas apa Q! Film Festival? Seperti diinformasikan situs http://www.goethe.de "Q! Film Festival adalah festival film internasional yang terbesar kedua di Indonesia sekaligus satu-satunya festival film LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transeksual) di negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Festival ini mempresentasikan film dan video terbaik dari seluruh dunia mengenai homoseksualitas, permasalahan seputar gender, seksualitas, mode, hak azasi manusia dan HIV/AIDS. Q! Film Festival adalah mitra resmi dari “Teddy Award” Festival Film Berlin.
Dikatakan Komisioner Komnas HAM Johny Nelson Simanjuntak, FPI seharusnya memberikan penilaian yang obyektif terlebih dahulu tentang film-film yang akan diputar.
"Kalau tidak menonton, tidak mungkin bisa memberikan penilaian yang obyektif. Rekan-rekan FPI diminta menonton dululah dan baru memberikan penilaian. Kalau teman-teman tidak bisa menonton itu karena menyalahi iman mereka, ya bisa meminta ahli untuk menonton sehingga bisa memberikan penilaian obyektif. Jangan langsung memberhentikan penyiaran, itu kan tidak bagus," tegasnya dihubungi Kompas.com, Rabu (29/9/2010).
Menurutnya, teman-teman di FPI mendatangkan ahli dan menontonnya untuk memberikan pendapat obyektif terhadap film-film itu. "Teman-teman transeksual juga kiranya mendengar pendapat yang disampaikan mereka. Perlu sikap yang moderat dari semua pihak," tambahnya.
Johny mengatakan Komnas HAM sendiri belum dapat menyatakan sikapnya terhadap boleh atau tidaknya pemutaran film bertemakan kehidupan Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT) ini sebelum memperoleh informasi yang cukup mengenai film-film yang akan diputar.
Namun yang pasti, Komnas HAM mendukung kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia, termasuk dari kalangan LGBT, selama itu tidak bertentangan dengan UU yang menjadi koridor kehidupan di Indonesia.
"Kebebasan juga tidak berarti kemauan sendiri-sendiri, tidak berarti begitu tapi juga kalau orang membikin koridor atas kebebasan sendiri tidak benar juga. Orang bebas semaunya tidak bisa. Orang membatasi kebebasan juga tidak bisa. Harus ada kesepakatan atas kebebasan yang bisa melindungi orang-orang yang mengekspresikan tapi juga harus ada batasnya, yaitu UU sebagai kesepakatan nasional," paparnya.
FPI juga harus menjelaskan alasan mereka menyampaikan protes yang keras terkait penyelenggaran festival tersebut. Mengingat, penyelenggaraan Q Film Festival bukanlah yang pertama digelar namun sudah berlangsung hampir 10 tahun.
Lebih jauh Johny mengatakan bahwa kedua pihak harus terbuka apakah aspirasi FPI sudah pernah disampaikan sebelumnya, lantas diacuhkan atau justru protes baru kali ini disampaikan, dan langsung (menolak) dengan cara yang keras.
Komnas HAM berharap ada ruang mediasi antara kedua pihak untuk menemukan jalan keluar. Menurut Johny, pemberhentian pemutaran film seharusnya tak perlu dilakukan jika film-film memang bermuatan edukasi untuk kaum LGBT. Lagipula, penonton festival film ini memang dibatasi melalui keanggotaan komunitas tertentu.
Lantas apa Q! Film Festival? Seperti diinformasikan situs http://www.goethe.de "Q! Film Festival adalah festival film internasional yang terbesar kedua di Indonesia sekaligus satu-satunya festival film LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transeksual) di negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Festival ini mempresentasikan film dan video terbaik dari seluruh dunia mengenai homoseksualitas, permasalahan seputar gender, seksualitas, mode, hak azasi manusia dan HIV/AIDS. Q! Film Festival adalah mitra resmi dari “Teddy Award” Festival Film Berlin.
Deddy Mizwar : Pantang datangi Festival Ffilm Gay
Deddy Mizwar tak setuju ajang Q! Film Festival atau festival film gay. Alasannya: dosa. Ia tak akan datang, meskipun mendapat undangan.
Digelarnya Q! Film Festival atau festival film gay mendapat kecaman Front Pembela Islam (FPI) berupa aksi demonstrasi penutupan. Aktor Kawakan Deddy Mizwar pun menanggapi serius.
Pria yang dikenal dengan si Nagabonar ini menganggap penyelenggaraan Q! Film Festival merupakan hak penyelenggara. Namun di lain pihak, sebagai bagian dari masyarakat, FPI juga berhak menolak.
"Kalau ditanya boleh atau tidak (menyelenggarakan Q! Film Festival), ya kita nggak bisa melarang. Tapi kalau FPI mau menolak, itu juga hak mereka,” ujar Deddy melalui telepon seluler, Rabu (29/9) siang.
Kenyataanya, Deddy memilih untuk menutup diri dari penyelenggaraan festival film itu. “Secara pribadi, kalau diundang saya nggak akan datang,” tuturnya.
Kenapa?
“Ya, dosalah,” jawabnya singkat lantas tertawa.
Q! adalah festival film internasional terbesar kedua di Indonesia sekaligus satu-satunya festival film yang mengangkat komunitas kaum homo dan lesbian.
Festival ini mempresentasikan film dan video terbaik dari seluruh dunia mengenai homoseksualitas, permasalahan seputar gender, seksualitas, mode, hak asasi manusia, dan HIV/AIDS.
Digelarnya Q! Film Festival atau festival film gay mendapat kecaman Front Pembela Islam (FPI) berupa aksi demonstrasi penutupan. Aktor Kawakan Deddy Mizwar pun menanggapi serius.
Pria yang dikenal dengan si Nagabonar ini menganggap penyelenggaraan Q! Film Festival merupakan hak penyelenggara. Namun di lain pihak, sebagai bagian dari masyarakat, FPI juga berhak menolak.
"Kalau ditanya boleh atau tidak (menyelenggarakan Q! Film Festival), ya kita nggak bisa melarang. Tapi kalau FPI mau menolak, itu juga hak mereka,” ujar Deddy melalui telepon seluler, Rabu (29/9) siang.
Kenyataanya, Deddy memilih untuk menutup diri dari penyelenggaraan festival film itu. “Secara pribadi, kalau diundang saya nggak akan datang,” tuturnya.
Kenapa?
“Ya, dosalah,” jawabnya singkat lantas tertawa.
Q! adalah festival film internasional terbesar kedua di Indonesia sekaligus satu-satunya festival film yang mengangkat komunitas kaum homo dan lesbian.
Festival ini mempresentasikan film dan video terbaik dari seluruh dunia mengenai homoseksualitas, permasalahan seputar gender, seksualitas, mode, hak asasi manusia, dan HIV/AIDS.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Labels
2011
2012
3rd edition
720p
Accelerometer
Action
Action Games
Al Jazeera Sport +3
All in One
Antivirus
Arsenal
Athletic Bilbao
Atletico Madrid
Barcelona
Barclays Premier League
Bayern Munich
BBC
Brrip
Business
Cari tahu
CERITA LUCU
Champions League
Chelsea
Comedy
Crime
Desain Grafis
Desktop
Developer
Drama
Educational
El Clasico
English Learning
English Premier League
Entertainment
EPL
ESPN 3
ESPN Deportes
Europa
Europa League
Everton
FOX SOCCER
FOXSOCCER 2Go
Free Ebook Bisnis
Full Match
Full Version
Game
Game and Education
GOLTV
GPS
Graphics
HD Collection
hd720p
HDTV
Highlights
Indian Movies
Indonesia
Internet
ITV Sport
Java
Kabar Tarakan
Korea
La Liga
La Liga BBVA
la liga spain
liga champion
Liverpool
Maintenance
Man Utd
Management
Manchester United
Match of the day
Media
mediafire links
mediafire movies
Mixed Games
mkv
Mobile Applications
Mobile Games
MOTD
Movie
MP3
Multimedia
Music
Navigation
News
Office
offline
Operating System
Other
Patch
Peristiwa
Ponsel
portable
Premier League
Pro Kontra Film Gay
Programmer
PSSI
Python
Real Madrid
Request
Romance
RPG
Security
Sejarah
Serial Number/Crack
Simulation
Sky Sports
Soccer Zone
software
spanish la liga
Spanish league
Sporting Lisbon
SPORTSNET WORLD
Strategy
Symbian
Thriller
Tips/Trick
Tottenham Hotspur
Tutorial
UCL
UCL Highlights
Uefa Champions League
UEFA Europa League
Utilities
Valencia
West Brom
windows
word
ziddu.com